|
|
![]() |
Nadya
Ningsih
Noval
Pranata
Rafky
Fenta
Ratu
Ayu Pratiwi
Ridho
Rahmanela
Riki
Oliyanto
Tri
Anino Vensky
|
|
|
|

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah alrabbi al‘alamin kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmatnya kepada kami dan seijin-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.
Dan kami ucapkan terima kasih kepada bapak guru dan teman-teman yang telah memberikan saran dan bantuannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) tentang Proses dan Perkembangan Agama Isla di Pulau Kalimantan .
Kami mohon maaf apabila dalam penyusunan makalah ini banyak sekali kekurangan- kekurangannya, dan kami sangat berbesar hati dan berlapang dada sekali apabila Bapak Guru, teman-teman serta para pembaca untuk memberikan saran dan kritiknya.
Padang, 3 Desember 2013
Daftar
Isi
Kata Pengantar ………………………………………………………………………… 1
Daftar isi ………………………………………………………………………………. 2
BAB I PENDAHULUAN
……………………………………………………………. 3
1.
Latar belakang …………………………………………………………………… 3
2.
Permasalahan …………………………………………………………………..... 4
3.
Tujuan …………………………………………………………………………… 4
BAB II PEMBAHASAN
……………………………………………………………..5
1.
Islam Masuk di Kalimantan Barat …………………………………………….. 5
2. Islam Masuk di Kalimantan
Selatan ………………………………7
3. Islam
Masuk di Kalimantan Timur ……………..………………….10
4. Islam
Masuk di Kalimantan Tengah ………………………………….12
5. Pendidikan
Islam di Kalimantan ……………………………………………………... 13
6. Organisasi
Perkumpulan Madrasah di Kalimantan …………….13
BAB III PENUTUP ………………………………………………………………….. 15
1.
Kesimpulan ……………………………………………………………………… 15
2.
Saran dan
kritik ………………………………………………………………….. 15
DAFTAR PUSTAKA
………………………………………………………………... 16
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Para ulama yang berdakwah di Sumatera dan Jawa melahirkan kader-kader dakwah yang terus menerus mengalir sehingga inilah awal dari masuknya islam di kalimantan. Islam masuk ke Kalimantan atau yang lebih dikenal dengan Borneo kala itu melalui dua jalur.
Jalur pertama yang membawa Islam masuk ke tanah Borneo adalah jalur Malaka yang dikenal sebagai Kerajaan Islam setelah Perlak dan Pasai. Jatuhnya Malaka ke tangan penjajah Portugis kian membuat dakwah semakin menyebar. Para mubaligh-mubaligh dan komunitas Islam kebanyakan mendiami pesisir Barat Kalimantan.
Jalur lain yang digunakan menyebarkan dakwah Islam adalah para mubaligh yang dikirim dari Tanah Jawa. Ekspedisi dakwah ke Kalimantan ini menemui puncaknya saat Kerajaan Demak berdiri. Demak mengirimkan banyak mubaligh ke negeri ini. Perjalanan dakwah pula yang akhirnya melahirkan Kerajaan Islam Banjar dengan ulama-ulamanya yang besar, salah satunya adalah Syekh Muhammad Arsyad al Banjari.
Di Kalimantan Selatan terutama sejak abad ke-14 sampai awal abad ke-16 yakni sebelum terbentuknya Kerajaan Banjar yang berorientasikan Islam, telah terjadi proses pembentukan negara dalam dua fase. Fase pertama yang disebut Negara Suku (etnic state) yang diwakili oleh Negara Nan Sarunai milik orang Maanyan. Fase kedua adalah negara awal (early state) yang diwakili oleh Negara Dipa dan Negara Daha. Terbentuknya Negara Dipa dan Negara
Daha menandai zaman klasik di Kalimantan Selatan. Negara Daha akhirnya lenyap seiring dengan terjadinya pergolakan istana, sementara lslam mulai masuk dan berkembang disamping kepercayaan lama. Zaman Baru ditandai dengan lenyapnya Kerajaan Negara Daha beralih ke periode negara kerajaan (kingdom state) dengan lahirnya kerajaan baru, yaitu Kerajaan Banjar pada tahun 1526 yang menjadikan Islam sebagai dasar dan agama resmi kerajaan.
2. Permasalahan
- Menjelaskan tentang begaimana Islam datang ke Pulau Kalimantan
-
Menjelaskan tentang bagaimana caranya Islam bisa berkembang di Pulau Kalimantan.
- Menjelaskan tentang apa saja hikmah bagi Pulau Kalimantan setelah Islam datang.
3. Tujuan
- Untuk mengingat kembali tentang bagaimana Islam masuk ke Pulau Kalimantan
- Menjelaskan tentang apa saja hikmah bagi Pulau Kalimantan setelah Islam datang.
3. Tujuan
- Untuk mengingat kembali tentang bagaimana Islam masuk ke Pulau Kalimantan
-
Supaya kita bisa mencontoh bagaimana cara berdakwah yang baik
- Mengenang kembali jasa-jasa para pejuang terdahulu di Pulau Kalimantan
- Mengenang kembali jasa-jasa para pejuang terdahulu di Pulau Kalimantan
PEMBAHASAN
Islam
pertama kali masuk di Kalimantan adalah di daerah utara tepatnya di daerah
Brunai sekitar pada tahun 1500 M. Setelah raja Brunai memeluk Islam (sekitar
1520), maka Brunai menjadi pusat penyiaran agama Islam sehingga Islam sampai ke
Pilipina.
Pusat penyebaran Islam yang lain adalah di Kalimantan Barat di dekat Muara Sambas. Islam masuk ke daerah ini diperkirakan pada abad XVI di bawa oleh orang-orang dari Johor, menyusul kemudian daerah Sambas ditaklukkan oleh kerajaan Johor.
Adapun masuknya Islam di Kalimantan Selatan terjadi sekitar 1550 M atas pengaruh dari Jawa. Dikatakan bahwa raja-raja di Kalimantan Selatan memeluk agama Islam setelah mendapat bantuan dari Sultan Demak.
Daerah Timur Kalimantan terdapat kerajaan Bugis yang mendapat pengaruh Islam sekitar tahun 1620 M. Islam masuk ke daerah ini melalui jalan perkawinan orang-orang Arab dengan putri-putri raja di daerah ini.
Pusat penyebaran Islam yang lain adalah di Kalimantan Barat di dekat Muara Sambas. Islam masuk ke daerah ini diperkirakan pada abad XVI di bawa oleh orang-orang dari Johor, menyusul kemudian daerah Sambas ditaklukkan oleh kerajaan Johor.
Adapun masuknya Islam di Kalimantan Selatan terjadi sekitar 1550 M atas pengaruh dari Jawa. Dikatakan bahwa raja-raja di Kalimantan Selatan memeluk agama Islam setelah mendapat bantuan dari Sultan Demak.
Daerah Timur Kalimantan terdapat kerajaan Bugis yang mendapat pengaruh Islam sekitar tahun 1620 M. Islam masuk ke daerah ini melalui jalan perkawinan orang-orang Arab dengan putri-putri raja di daerah ini.
Proses Masuknya Islam Di Beberapa
Daerah di Pulau Kalimantan :
A. Islam
Masuk di Kalimantan Barat
Islam
masuk ke Indonesia masih menyisakan perdebatan panjang,ada tiga teori yang
dikembangkan para ahli mengenai masuknya Islam di Indonesia:
1.TeoriGujarat,
2.Teori
Persia dan
3.Teori
Arabia.
1. Teori Gujarat banyak dianut oleh ahli dari
Belanda
Islam dari
anak BenuaIndia, menurut Pijnappel orang Arab bermazhab Syafi’i yang
bermingrasi
menetap
diwilayah India kemudian membawa Islam ke Indonesia (Azra,1998:24) Teori ini
dikembangkan oleh Snouck Hurgonje.Moquette iaberkesimpulan bentuk nisan di Pasai
kawasan Sumatera 17 Dzulhijjah 1831H/27 September 1428, batu nisan mirip di
Cambay,Gujarat.W.F. Stuterheimmenyatakan masuknya agama Islam ke Nusantara pada
abad ke-13 Masehi,yakniMalik Al-Saleh pada tahun 1297. masuknya Islam ke
Indonesia adalah Gujarat. Relief batu nisan Sultan Malik Al-Saleh bersifat
Hinduistikj mempunyai kesamaan batu nisan di
Gujarat.(Suryanegara,1998:76). J.C.Van Leur pada th 674 M pantai barat Sumatera
telah terdapat perkampungan Islam, Islam tidak terjadi pada abad ke- 13
akan tetapi abad ke-7
2.Teori Persia dikembangkan oleh: Hoesin Djajadiningrat,
titik
berat pada kesamaan kebudayaan masyarakat Indonesia dengan
Persia.Kesamaan budaya seperti peringatan 10 muharram atau Asyura sebagai
hari peringatanSyi’ah terhadap syahidnya Husain. Kedua adanya ajaran wahdatul
Wujud Hamzah Fansuri dan Syekh Siti Jenar dengan ajaran sufi Persia,
Al-Hallaj.Persia, dibantah K.H. Saifuddin Zuhri , apabila berpedoman Islam
masuk abad
ke -7 pada masa Bani Umayyah, Kekuasaan politik dipegangoleh bangsa Arab, tidak
mungkin Islam berasal dari Persia.
(1
)M.Natsir,S.Sos.M.Si Peneliti pada Balai Pelestarian Sejarah Pontianak. Dosen
pada Isipol UNTAN(2) Bahan tulisan Seminar Serantau Perkembangan Islam Borneo,
27-28 Peb 2008 di UiTM Malaysia
3. Teori Arabia,
penganut
teori ini adalah :T.W.Arnold,Crawfurd, Keijzer, Niemann, De Holander,
Naquib Al-Attas ,A. Hasyimi, dan Hamka.
Teori
Arabiah yang dipertegas Hamka ia menolak keras terhadap teori Gujarat,
teori ini dikemukan Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan,
17-20 Maret 1963 ia menolak bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 jauh
sebelumnya abad ke-7 Masehi. Adapun keberadaan Islam di Kalimantan Barat
tidak diketahui secara pasti,namun dari beberapa literatur dan pendapat yang
ada masih merupakan sebuah prediksi yang dikemukakan oleh para
peneliti maupun dari bekas-bekas peninggalanyang ada, baik yang terekam di
masyarakat melalui ajaran atau kepercayaan, dapat juga dilihat dari
situs-situs yang masih ada dan sejarah keberadan keraton yang
banyak didominasi oleh kesultanan Islam.(Doc.Natsir)
B.Islam
Masuk di Kalimantan Selatan
Barangkali sumber yang cukup tua
menyebutkan bahwa Kalimantan pada periode menjelang masuknya Islam di
Kalimantan ialah Negara Kartagama, yang
ditulis oleh Mpu Prapanca tahun 1365 ini telah menyebut daerah Kalimantan
Selatan yang diketahui ialah daerah sepanjang sungai Negara, sungai Barito dan
sekitarnya.
Situasi politik di daerah Kalimantan
Selatan menjelang Islam banyak diketahui dari sumber historiografi tradisional
yakni Hikayat Lambung Mangkurat atau Hikayat Banjar. Sumber tersebut
memberitahukan bahwa di daerah Kalimantan Selatan telah berdiri kerajaan yang
bercorak Hindu Negara Dipa yang berlokasi sekitar Amuntai dan kemudian
dilanjutkan dengan Negara Daha sekitar Negara sekarang.
Menjelang datangnya Islam ke daerah
Kalimantan Selatan kerajaan yang bercorak Hindu telah berpindah dari Negara
Dipa ke Negara Daha diperintah oleh Maharaja Sukarama, mertua Ratu Lemak.
Setelah dia meninggal dia digantikan oleh Pangeran Tumenggung yang menimbulkan
sengketa dengan Pangeran Samudera cucu Maharaja Sukarama, yang dilihat dari
segi institusi kerajaan mempunyai hak mewarisi tahta kerajaan. Dengan demikian
Negara Daha adalah benteng terakhir dari institusi kerajaan bercorak Hindu dan
setelah itu digantikan dengan institusi bercorak Islam.
Sunan Giri sangat besar terhadap
perkembangan kerajaan Islam Demak. Sunan Girilah yang memberikan gelar Sultan
kepada raja Demak. Dalam hal ini sangat menarik perhatian hubungan antara Sunan
Giri dengan daerah Kalimantan Selatan. Dalam Hikayat Lambung Mangkurat
diceritakan tentang Raden Sekar Sungsang dari Negara Dipa yang lari ke Jawa.
Ketika dia masih kecil kelakuannya menjengkelkan ibunya Puteri Kaburangan, yang
juga dikenal sebagai Puteri Kalungsu. Waktu dia kecil karena sering mengganggu
ibunya, dia dipukul di kepalanya dan mengeluarkan darah. Sejak itu dia lari dan
ikut dengan juragan Petinggi atau Juragan Balaba yang berasal dari Surabaya.
Juragan Balaba memeliharanya sebagai anaknya sendiri dan setelah dewasa dia
dikawinkan dengan puteri Juragan Balaba sendiri. Dia mempunyai dua orang putera
Raden Panji Sekar dan Raden Panji Dekar. Keduanya berguru pada Sunan Giri,
Raden Sekar kemudian diambil menjadi menantu Sunan Giri dan kemudian bergelar
Sunan Serabut. Raden Sekar Sungsang kemudian kembali menjalankan perdagangan
sampai ke Negara Dipa. Dengan penampilan yang tampan Raden Sekar Sungsang
adalah seorang pedagang dari Jawa, yang banyak mengadakan hubungan perdagangan
dengan pihak kerajaan Negara Dipa. Akhirnya dia kawin dengan Puteri Kalungsu
penguasa Negara Dipa, yang sebetulnya adalah ibunya sendiri. Setelah Puteri
Kalungsu hamil barulah terungkap bahwa suaminya adalah anaknya yang dulu
hilang. Mereka bercerai, Raden Sekar Sungsang memindahkan pemerintahannya
menjadi Negara Daha, yang berlokasi sekitar Negara sekarang, sedangkan Ibunya
tetap di Negara Dipa sekitar Amuntai sekarang. Raden Sekar Sungsang yang
menurunkan Raden Samudera yang menjadi Sultan Suriansyah raja pertama dari
Kerajaan Banjar.
Raden Sekar Sungsang Menjadi raja
pertama dari Negara Daha dengan gelar Maharaja Sari Kaburangan. Selama dia
berkuasa hubungan dengan Giri tetap terjalin dengan pembayaran upeti tiap
tahun.Yang menjadi masalah adalah, kalau Raden Sekar Sungsang selama di Jawa
kawin dengan melahirkan putera Raden Panji Sekar selanjutnya menjadi menantu
Sunan Giri, adalah hal mungkin sekali bahwa Raden Sekar Sungsang juga telah
memeluk agama Islam. Raden Panji Sekar menjadi seorang ulama yang bergelar Sunan
Serabut, adalah hal yang wajar kalau ayahnya sendiri Raden Sekar Sungsang telah
memeluk agama Islam meskipun keimanannya belum kuat. Kalau anggapan ini benar
maka Raden Sekar Sungsang raja dari Negara Daha dari Kerajaan Hindu yang telah
beragama Islam pertama sebelum Sultan Suriansyah.
Kalau benar bahwa Raden Sekar
Sungsang yang bergelar Sari Kaburangan telah beragama Islam, mengapa dia tidak
menyebarkan Islam itu pada rakyatnya. Hal ini terdapat beberapa kemungkinan.
Kemungkinannya antara lain bahwa agama Hindu masih terlalu kuat, sehingga lebih
baik menyembunyikan ke Islamannya, atau memang keimanannya belum kuat. Tetapi
yang dapat disimpulkan bahwa Islam telah menyelusup di daerah Negara Daha
Kalimantan Selatan, sekitar abad ke 13-14 Masehi.
A.A. Cense dalam bukunya “De Kroniek van Banjarmasin”, menjelaskan
bahwa ketika Pangeran Samudera berperang melawan pamannya Pangeran Tumenggung
raja Negara Daha. Pangeran Samudera menghadapi bahaya yang berat yaitu
kelaparan di kalangan pengikutnya. Atas usul Patih Masih Pangeran Samudera
meminta bantuan pada Kerajaan Islam Demak yang saat itu kerajaan terkuat
setelah Majapahit. Patih Balit diutus menghadap Sultan Demak dengan 400
pengiring dan 10 buah kapal. Patih Balit menghadap Sultan Tranggana dengan
membawa sepucuk surat dari Pangeran Samudera. F.S.A. De Clereq dalam bukunya. De Vroegste Geschiedenis van Banjarmasin (1877)
halaman 264 memuat isi surat Pangeran Samudera itu. Surat itu tertulis dalam
bahasa Banjar dalam huruf Arab-Melayu. Isi surat itu adalah : “Salam sembah putera andika Pangeran di
Banjarmasin datang kepada Sultan Demak. Putera andika menantu nugraha minta
tolong bantuan tandingan lawan sampean kerana putera andika berebut kerajaan
lawan parnah mamarina yaitu namanya Pangeran Tumenggung. Tiada dua-dua putera
andika yaitu masuk mengula pada andika maka persembahan putera andika intan 10
biji, pekat 1.000 galung, tudung 1.000 buah, damar 1.000 kandi, jeranang 10
pikul dan lilin 10 pikul”. Yang menarik dari surat ini adalah bahwa
surat itu tertulis dalam huruf Arab. Kalau huruf Arab sudah dikenal oleh
Pangeran Samudera, adalah jelas menunjukkan bukti bahwa masyarakat Islam sudah
lama terbentuk di Banjarmasin. Terbentuknya masyarakat Islam dan lahirnya
kepandaian membaca dan menulis huruf Arab memerlukan waktu yang cukup lama.
Kalau Kerajaan Islam Banjar terbentuknya pada permulaan abad ke- 16, maka
dapatlah diambil kesimpulan bahwa masyarakat Islam di Banjarmasin sudah
terbentuk pada abad ke- 15. Karena itulah masuknya agama Islam ke Kalimantan
Selatan setidak-tidaknya terjadi pada permulaan abad ke- 15.
Perdagangan sangat ramai setelah
bandar pindah ke Banjarmasin. Disini dapat pula kita lihat perbedaan
perekonomian antara Negara Daha dan Banjarmasin. Negara Daha menitik beratkan
pada ekonomi pertanian sedangkan Banjarmasin menitik beratkan pada perekonomian
perdagangan. Hubungan itu terutama adalah hubungan ekonomi perdagangan dan
akhirnya meningkat menjadi hubungan bantuan militer ketika Pangeran Samudera
berhadapan dengan Raja Daha Pangeran Tumenggung.
Pangeran Samudera adalah cikal bakal
raja-raja Banjarmasin. Dia adalah cucu Maharaja Sukarama dari Negara Daha.
Pangeran Samudera terpaksa melarikan diri demi keselamatan dirinya dari ancaman
pembunuhan pamannya Pangeran Tumenggung raja terakhir dari Negara Daha. Patih
Masih adalah Kepala dari orang-orang Melayu atau Oloh Masih dalam Bahasa Ngaju.
Sebagai seorang Patih atau kepala suku, tidaklah berlebihan kalau dia sangat
memahami situasi politik Negara Daha, apalagi juga dia mengetahui tentang
kewajiban sebagai daerah takluk dari Negara Daha, dengan berbagai upeti dan
pajak yang harus diserahkan ke Negara Daha. Patih Masih mengadakan pertemuan
dengan Patih Balit, Patih Muhur, Patih Balitung, Patih Kuwin untuk mencari
jalan agar jangan terus-menerus desa mereka menjadi desa. Mereka sepakat
mencari Pangeran Samudera cucu Maharaja Sukarama yang menurut sumber berita
sedang bersembunyi di daerah Balandean, Serapat, karena Pangeran Tumenggung
yang sekarang Menjadi raja di Negara Daha pamannya sendiri ingin membunuh
Pangeran Samudera.
Pangeran Samudera dirajakan di
kerajaan baru Banjar setelah berhasil merebut bandar Muara Bahan, bandar dari
Negara Daha dan memindahkan bandar tersebut ke Banjar dengan para pedagang dan
penduduknya. Bagi Pangeran Tumenggung sebagai raja Negara Daha, hal ini berarti
suatu pemberontakan yang tidak dapat dimaafkan dan harus dihancurkan, perang
tidak dapat dihindarkan lagi. Pangeran Tumenggung kalah, mundur dan bertahan di
muara sungai Amandit.
Dalam perjalanan sejarah raja-raja
di Kalimantan Selatan, bila diteliti dengan seksama nampak bahwa pergantian
raja-raja dari Negara Daha sampai Banjarmasin dari :
1. Maharaja Sari Kaburangan/Raden
Sekar Sungsang
2. Maharaja Sukarama
3. Pangeran Mangkubumi/Raden Manteri
4. Pangeran Tumenggung
5. Pangeran Samudera
Bukan pergantian yang lumrah dari
ayah kepada anak tapi dari tangan musuh yang satu ketangan musuh yang lain,
melalui revolusi istana. Raden Sekar Sungsang usurpator pertama adalah pembangunan dinasti Hindu Negara Daha,
dan Pangeran Samudera usurpator kedua
adalah pembangun dinasti Islam Banjarmasin.
‘
C.Islam
Masuk di Kalimantan Timur
Pada masa pemerintahan Aji Raja Mahkota
(1525-600) kerajaan Kutai Kartanegara kedatangan dua orang ulama dari Makassar,
yaitu Syekh Abdul Qadir Khatib Tunggal yang bergelar Datok Ri Bandang dan Datok
Ri Tiro yang dikenal dengan gelar Tunggang Parangan. Seperti yang di kisahkan
dalam Silsilah Kutai, tujuan kedatangan dua ulama tersebut adalah untuk
menyebarkan agama islam dengan cara mengajak Aji Raja Mahkota Untuk memeluk
agama Islam, pada awalnya ajakan ulama ini di tolak oleh Aji Raja Mahkota
dengan alasan bahwa agama di kerajaan Kutai Kartanegara adalah Hindu.
Langkah
dakwah kedua ulama ini untuk mengajak Aji Raja Mahkota di tolak oleh sang Raja.
Bahkan karena langkah dakwah ini buntu, Tuan ri Bandang akhirnya memutuskan
kembali ke Makassar dan meninggalkan tunggang parangan di kerajaan Kutai
Kartanegara. Sebagai jalan akhir, Tunggang Parangan menawarkan solusi kepada
Aji Raja Mahkota untuk mengadu kesaktian dengan taruhan apabila Aji Raja
Mahkota kalah, maka sang raja bersedia untuk memeluk islam. Akan tetapi jika
Aji Raja Mahkota yang akan menang maka Tunggang Parangan akan mengabdikan
hidupnya untuk kerajaan Kutai Kartanegara.
Solusi
Tunggang Parangan di setujui oleh Raja Mahkota. Adu kesaktian akhirnya di gelar
dan berujung dengan kekalahan Aji Raja Mahkota. Sebagai konskuensi kekalahan,
maka Aji Raja Mahkota Akhirnya masuk Islam. Sejak Aji Raja Masuk Islam maka
pengaruh Hindu yang telah tertular lewat interaksi dengan kerajaan
majapahit lambat laun luntur dan berganti dengan pengaruh Islam dan sebagian
rakyat yang masih memilih untuk memeluk agama hindu kemudia tersisih dan
berangsur-angsur pindah ke daerah pinggiran kerajaan.
Perkembangan
kerajaan Kutai Kartanegara yang mempunyai lokasi berdekatan dengan kerajaan
kutai yang lebih dulu ada di Muara Kaman pada awalnya tidak menimbulkan friksi
yang berarti. Hanya saja ketika Kerajaan Kutai Kartanegara di perintah oleh Aji
Pangeran Sinom Panji Mendapa ing Martadipura (1605-1635 M) terjadi perang
antara dua kerajaan besar ini. Di akhir perang Kerajaan Kutai dan Kerajaan
Kutai Kartanegara di lebur menjadi satu dengan nama Kerajaan Kutai Kartanegara
ing Martadipura. Raja pertama dari penggabungan dua kerajaan ini adalah Aji
Pangeran Sinom Panji Mendapa ing Martadipura (1605-1635 M).
Pada
masa pemerintahan Aji Pangeran Sinom Panji Mendapa ing Martadipura, pengaruh
Islam yang telah masuk sejak pemerintahan Aji Raja Mahkota (1525-1600 M) telah
mengakar kuat. Islam sangat berpengaruh pada sistem pemerintahan Kerajaan Kutai
Karta Negara ing Martadipura. Indikator dari pengaruh islam terlihat pada
pemakaian Undang-Undang Dasar Kerajaan yang di kenal dengan nama “Panji
Salaten” yang terdiri dari 39 Pasal dan memuat sebuah kitab peraturan yang
bernama “Undang-Undang Beraja Nanti” yang memuat 164 Pasal peraturan. Kedua
Undang-Undang tersebut berisi peraturan tentang yang di sandarkan pada Hukum
Islam.
Pemimpin
pertama yang memakai gelar “Sultan” adalah Aji Su;tan Muhammad Idris. Beliau
merupakan menantu dari Sultan Wajo La Madukelleng,
seorang bangsawan Bugis di Sulawesi Selatan. Pada saat rakyat Bugis di Sulawesi
Selatan sedang berperang melawan VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie),
Sultan Wajo meminta bantuan Aji Sultan Muhammad Idris. Permintaan bantuan pun
di penuhi oleh Aji Sultan Muhammad Idris. Kemudian berangkatlah rombongan Aji
Sultan Muhammad Idris ke Sulawesi Selatan untuk membantu Sultan Wajo La
Madukelleng. Dalam upaya memberikan bantuan tersebut Aji Sultan Muhammad Idris
Meninggal dunia.
Selama
kepergian Aji Sultan Muhammad Idris ke Sulawesi, kursi Sultan Kutai Kartanegara
ing Martadi pura di pegang oleh dewan perwakilan. Tetapi ketika Aji Sultan
Muhammad Idris Meninggal dalam pertempuran di Sulawesi, timbul perebutan tahta
tentang pengganti sultan. Perebutan tahta terjadi antara kedua anak Aji Sultan
Muhammad Idris, yaitu putra Mahkota Aji Imbut dan Aji Kado.
Pada
awal awal perebutan tahtta, Aji Imbut terdesak oleh Aji Kado dan lari ke
Sulawesi, ke tanah kakeknya, yaitu Sultan Wajo La MAdukelleng. Aji Imbut
menggalang kekuatan untuk kembali menyerang Aji Kado yang telah menduduki
ibukota kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang terletak di
pemarangan, karena ibukota Kesultanan Kutai Kartanegara telah berpindah dari
Kutai lama ke Pemarangan sejak tahun 1732.
Aji
Imbut Akhirnya menyerang Aji Kado di Pemarangan. Di dukung oleh orang-orang
Wajo dan Bugis dan Aji Imbut berhasil mengalahkan Aji Kado dan memduduki
singgasana Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura dengan Gelar Aji Marhum
Muslihuddin (1739-1782 M). sedangkan Aji Imbut dihukum mati dan dimakamkan di
pulau jembayan.
Di Kalimantan Timur inilah dua orang
da’i terkenal datang, yaitu Datuk Ri Bandang dan Tuan Tunggang Parangan,
sehingga raja Kutai (raja Mahkota) tunduk kepada Islam diikuti oleh para
pangeran, para menteri, panglima dan hulubalang. Untuk kegiatan dakwah ini
dibangunlah sebuah masjid. Tahun 1575 M, raja Mahkota berusaha menyebarkan
Islam ke daerah-daerah sampai ke pedalaman Kalimantan Timur sampai daerah Muara
Kaman, dilanjutkan oleh Putranya, Aji Di Langgar dan para penggantinya.
seorang ulama yang telah berjasa besar dalam menyebarkan ajaran Islam di Pulau Kalimantan, khususnya di wilayah Kotawaringin. Ulama tersebut adalah Kiai Gede, seorang ulama asal Jawa yang diutus oleh Kesultanan Demak untuk menyebarkan ajaran Islam di Pulau Kalimantan. Kedatangan Kiai Gede tersebut ternyata disambut baik oleh Sultan Mustainubillah. Oleh sang Sultan, Kiai Gede kemudian ditugaskan menyebarkan Islam di wilayah Kotawaringin, sekaligus membawa misi untuk merintis kesultanan baru di wilayah ini.
Berkat jasa-jasanya yang besar dalam menyebarkan Islam dan membangun wilayah Kotawaringin, Sultan Mustainubillah kemudian menganugerahi jabatan kepada Kiai Gede sebagai Adipati di Kotawaringin dengan pangkat Patih Hamengkubumi dan bergelar Adipati Gede Ing Kotawaringin. Namun, hadiah yang paling berharga dari sang Sultan bagi Kiai Gede adalah dibangunnya sebuah masjid yang kelak bukan sekedar sebagai tempat beribadah, melainkan juga sebagai pusat kegiatan-kegiatan kemasyarakatan bagi Kiai Gede dan para pengikutnya. Bersama para pengikutnya, yang waktu itu hanya berjumlah 40 orang, Kiai Gede kemudian membangun Kotawaringin dari hutan belantara menjadi sebuah kawasan permukiman yang cukup maju. Kalaupun wilayah Kotawaringin sekarang ini menjadi salah satu kota yang terbilang maju di Kalimantan, hal itu tidak dapat dipisahkan dari jasa besar Kiai Gede dan para pengikutnya. Kiai Gede membangun Sebuah Masjid yang bernama Masjid Kiai Gede, Mesjid ini menjadi saksi sejarah perkembangan Islam di Kotawaringin. Masjid Kiai Gede dibangun pada tahun 1632 Miladiyah atau tahun 1052 Hijriyah, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Mustain Billah (1650-1678 M), raja keempat dari Kesultanan Banjarmasin.
Pendidikan
Islam di Kalimantan
Pendidikan Islam di Kalimantan
Pendidikan Islam di Kalimantan
dipelopori oleh
Madrasatun Najah wal Falah yang didirikan pada tahun 1918 M, hal ini menjadi
inspirasi bagi berdirinya madrasah-madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah yang
lain. Diantara madrasah-madrasah tersebut adalah :
Madrasah Perguruan Islam (Assulthaniah)
Di antara madrasah yang masyhur adalah Madrasah Perguruan Islam (Assulthaniah) di Sambas yang berdiri pada tahun 1922 M. Proses pembelajaran di madrasah ini selama 5 tahun ditambah 1 tahun kursus vak agama. Materi yang diajarkan adalah ilmu-ilmu agama ditambah pengetahuan umum.
Al-Raudlatul Islamiyyah
Madrasah Al-Raudlatul Islamiyyah berlokasi di Pontianak, didirikan pada tahun 1936 M. Madrasah ini menyelenggarakan dua tingkat pendidikan yaitu Ibtidaiyah selama 6 tahun dan Tsanawiyah selama 3 tahun. Materi yang diajarkan sama dengan madrasah lain yaitu ilmu agama ditambah ilmu umum.
Sekolah Menengah Islam Pertama (SMIP)
SMIP didirikan pada tanggal 15 Oktober 1946 M di Banjarmasin Kalimantan Selatan. Lama pelajarannya selama 5 tahun terdiri dari 6 kelas. Pelajaran Agama di kelas 1, 2 dan 3 sederajat dengan Tsanawiyah dan pelajaran umum sedapat-dapatnya sederajat dengan SMP Negeri.
Normal Islam Amuntai
Madrasah ini didirikan pada tahun 1928 oleh H. Abdur Rasyid, seorang lulusan Al-Azhar Mesir dengan nama Arabische School. Pada akhir 1941 tampuk kepemimpinan dipegang oleh Ustadz M. Arif Lubis, salah satu guru di Pondok Modern Gontor Ponorogo (Madiun) dan berubah namanya menjadi Ma’had Rasyidah Amuntai. Pada tahun 1945, nama madarasah berubah menjadi sekolah guru dengan nama Normal Islam IMI Amuntai, dengan lama pelajaran selama 6 tahun dan rencana pelajarannya disesuaikan dengan hajat masyarakat.
Selain madrasah-madrasah tersebut banyak madrasah-madrasah lainnya, diantaranya Madrasah Imad Darussalam di Martapura, Madrasah Sekolah Menengah Islam di Kandangan, Madrasah Al-Ashriah di Banjarmasin dan lain-lain.
Madrasah Perguruan Islam (Assulthaniah)
Di antara madrasah yang masyhur adalah Madrasah Perguruan Islam (Assulthaniah) di Sambas yang berdiri pada tahun 1922 M. Proses pembelajaran di madrasah ini selama 5 tahun ditambah 1 tahun kursus vak agama. Materi yang diajarkan adalah ilmu-ilmu agama ditambah pengetahuan umum.
Al-Raudlatul Islamiyyah
Madrasah Al-Raudlatul Islamiyyah berlokasi di Pontianak, didirikan pada tahun 1936 M. Madrasah ini menyelenggarakan dua tingkat pendidikan yaitu Ibtidaiyah selama 6 tahun dan Tsanawiyah selama 3 tahun. Materi yang diajarkan sama dengan madrasah lain yaitu ilmu agama ditambah ilmu umum.
Sekolah Menengah Islam Pertama (SMIP)
SMIP didirikan pada tanggal 15 Oktober 1946 M di Banjarmasin Kalimantan Selatan. Lama pelajarannya selama 5 tahun terdiri dari 6 kelas. Pelajaran Agama di kelas 1, 2 dan 3 sederajat dengan Tsanawiyah dan pelajaran umum sedapat-dapatnya sederajat dengan SMP Negeri.
Normal Islam Amuntai
Madrasah ini didirikan pada tahun 1928 oleh H. Abdur Rasyid, seorang lulusan Al-Azhar Mesir dengan nama Arabische School. Pada akhir 1941 tampuk kepemimpinan dipegang oleh Ustadz M. Arif Lubis, salah satu guru di Pondok Modern Gontor Ponorogo (Madiun) dan berubah namanya menjadi Ma’had Rasyidah Amuntai. Pada tahun 1945, nama madarasah berubah menjadi sekolah guru dengan nama Normal Islam IMI Amuntai, dengan lama pelajaran selama 6 tahun dan rencana pelajarannya disesuaikan dengan hajat masyarakat.
Selain madrasah-madrasah tersebut banyak madrasah-madrasah lainnya, diantaranya Madrasah Imad Darussalam di Martapura, Madrasah Sekolah Menengah Islam di Kandangan, Madrasah Al-Ashriah di Banjarmasin dan lain-lain.
Organisasi Perkumpulan Madrasah di Kalimantan
Di kalimantan ada beberapa organisasi perkumpulan madrasah, diantaranya :
a. Persatuan Madrasah Islam Indonesia (PERMI)
Permi didirikan di Pontianak pada tahun 1954 dengan tujuan untuk menyatukan nama madrasah dengan nama yang sederhana yaitu Madrasatul Islam Al Ibtidaiyah dan Madrasatul Islam Tsanawiyah. Tujuan lainnya adalah menyatukan bahan dan sumber pelajaran, yakni menggunakan kitab-kitab keluaran Sumatera. Permi memberi ketentuan bahwa pelajaran pada madrasah-madrasah itu terdiri dari ilmu agama, bahasa Arab dan pengetahuan umum dengan porsi pengetahuan umum sekurang-kurangnya 30%. Permi juga mempunyai tujuan untuk menyatukan madrasah-madrasah dalam organisasi ini.
b. Ikatan Madrasah Islam (IMI) Amuntai
IMI didirikan pada tanggal 15 Maret 1945 dengan tujuan menciptakan adanya pendidikan dan pengajaran Islam, memperluas berdirinya perguruan tinggi Islam dan memperbaiki organisasi dan leerplan perguruan-perguruan Islam yang telah ada agar sesuai dengan hajat hidup orang banyak.
Untuk mencapai tujuan tersebut IMI melakukan rapat-rapat dengan guru-guru dan pendidik-pendidik Islam, mendirikan perguruan-perguruan Islam jika memungkinkan, menggabungkan perguruan-perguruan Islam menjadi satu serta memberikan arahan-arahan kepada perguruan-perguruan Islam tentang pendidikan, pengajaran dan organisasi.
Di kalimantan ada beberapa organisasi perkumpulan madrasah, diantaranya :
a. Persatuan Madrasah Islam Indonesia (PERMI)
Permi didirikan di Pontianak pada tahun 1954 dengan tujuan untuk menyatukan nama madrasah dengan nama yang sederhana yaitu Madrasatul Islam Al Ibtidaiyah dan Madrasatul Islam Tsanawiyah. Tujuan lainnya adalah menyatukan bahan dan sumber pelajaran, yakni menggunakan kitab-kitab keluaran Sumatera. Permi memberi ketentuan bahwa pelajaran pada madrasah-madrasah itu terdiri dari ilmu agama, bahasa Arab dan pengetahuan umum dengan porsi pengetahuan umum sekurang-kurangnya 30%. Permi juga mempunyai tujuan untuk menyatukan madrasah-madrasah dalam organisasi ini.
b. Ikatan Madrasah Islam (IMI) Amuntai
IMI didirikan pada tanggal 15 Maret 1945 dengan tujuan menciptakan adanya pendidikan dan pengajaran Islam, memperluas berdirinya perguruan tinggi Islam dan memperbaiki organisasi dan leerplan perguruan-perguruan Islam yang telah ada agar sesuai dengan hajat hidup orang banyak.
Untuk mencapai tujuan tersebut IMI melakukan rapat-rapat dengan guru-guru dan pendidik-pendidik Islam, mendirikan perguruan-perguruan Islam jika memungkinkan, menggabungkan perguruan-perguruan Islam menjadi satu serta memberikan arahan-arahan kepada perguruan-perguruan Islam tentang pendidikan, pengajaran dan organisasi.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Setelah Islam datang ke
Indonesia terutama di Pulau Kalimantan banyak perubahan-perubahan yang terjadi
terutama bagi rakyat yang menengah ke bawah. Mereka lebih di hargai dan tidak
tertindas lagi karena Islam tidak mengenal sistem kasta, karena semua
masyarakat memiliki derajat yang sama. Islam juga membawa perubahan-perubahan
baik di bidang politik, ekonomi dan agama. Islam juga bisa mempersatukan
seluruh masyarakat Indonesia untuk melawan dan memgusir para penjajah.
B. SARAN
Kami yakin dalam penulisan makalah ini
banyak sekali kekurangannya. Untuk itu kami mohon kepada para pembaca agar
dapat memberikan saran, kritikan, atau mungkin komentarnya demi kelancaran
tugas kelompok kami ini
DAFTAR
PUSTAKA
Abdillah, Masykuri, "Potret
Masyarakat Madani di Indonesia",
dalam Seminar Nasional tentang
"Menatap Masa Depan Politik Islam di Indonesia", Jakarta:
International Institute of Islamic Thought,
Lembaga Studi Agama dan Filsafat UIN
Jakarta, 10 Juni 2003
Ali Daud, Muhammad, Asas-Asas Hukum
Islam, Jakarta: Rajawali, 1991, Cet . ke-2
Antonio, Muhammad Syafi'I, Bank
Syari'ah: Dari Teori ke Praktek, Jakarta: Gema Insani Press, 2001
Anwar, M. Syafi'i, Pemikiran dan
Aksi Islam Indonesia: Sebuah Kajian Politik tentang Cendekiawan Muslim Orde
Baru, Jakarta: Paramadina, 1995
Azra, Azyumardi, Islam reformis:
Dinamika Intelektual dan Gerakan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999
http://ldiisampit.blogspot.com/2011/11/perkembangan-islam-di-kalimantan.html

terimaksih, infonya membantu.
BalasHapus